Tuesday, February 15, 2011

Berburu Emas di Ballarat


Detail Berita
(foto: greatsoutherntouring)
KOTA emas. Itulah sebutan untuk Ballarat, kota yang terletak di sebelah barat Melbourne, ibu kota Negara Bagian Victoria, Australia.

Kandungan emas di Ballarat menjadikan kota itu sebagai salah satu pemasok emas terbesar di Australia meskipun negara ini perekonomiannya lebih bertopang pada sektor jasa.

Sebelum emas ditemukan pada tahun 1851, Ballarat adalah daerah tempat tinggal 25 suku Aborigin, penduduk asli Benua Australia. Bagi orang Aborigin, Ballarat dianggap sebagai tempat beristirahat.

Ballarat diserbu pendatang setelah emas ditemukan. Mereka berdatangan dari berbagai negara lalu menetap di Ballarat. Dalam kurun satu tahun, Ballarat berubah menjadi kota yang ramai pada zamannya.

Adalah Museum Sovereign Hill yang ”menghidupkan” kejayaan Ballarat. Di atas lahan seluas 25 hektar, pihak museum membangun replika kota Ballarat pada zaman perburuan emas. Museum ini sudah beroperasi sejak 38 tahun lalu.


Berkunjung ke Ballarat hanya butuh waktu sekitar 75 menit berkendaraan dari Melbourne menuju Ballarat.

Jarak Melbourne ke Ballarat hanya sekitar 112 kilometer. Selain dengan mobil atau bus, perjalanan ke Ballarat juga bisa ditempuh sekitar satu jam dengan kereta api dari Melbourne’s Southern Cross Station.

Sampai di Ballarat, ada waktu berkeliling kota sebentar. Di sepanjang kota, gedung tua bergaya arsitektur Victoria berdiri dengan indahnya. Danau Wendouree yang dulu menjadi tempat berkemah suku Aborigin juga masih utuh dan terpelihara baik.

Selesai berkeliling kota, perjalanan dilanjutkan ke museum terbuka Sovereign Hill. Begitu memasuki areal museum, rasanya seperti memasuki perjalanan waktu dan kembali ke masa 158 tahun silam.

Sebuah replika kota dengan suasana mirip di film-film koboi terlihat di depan mata. Di situ tampak deretan bangunan yang semuanya terbuat dari kayu. Tulisan besar berhuruf kapital di depan bangunan menjadi penanda fungsi bisnis bangunan tersebut.

Di depan bangunan yang berderet, jalan tanah membelah kota. Beberapa kereta kuda lalu-lalang di sepanjang jalan mengangkut penumpang yang tidak lain adalah pengunjung museum.

Di sebuah pondok kecil di sudut jalan, tiga pria tua asyik bermain akordeon, gitar banjo, dan biola. Mereka memainkan lagu berirama country.

Suasana kota semakin hidup dengan lalu-lalang ”warga” yang sedang sibuk berkegiatan. Di tengah kota, seorang perempuan bergegas menuju ke toko roti sambil menenteng keranjang. Sementara di bagian lain, seorang pria sibuk memasukkan kayu bakar untuk tungku pemanas kota.

”Warga” kota ini tidak lain adalah pekerja museum yang berperan sebagai penghuni kota. Jumlah semuanya ada 350 orang.

Para perempuannya mengenakan rok panjang lebar dengan mantel atau selendang menyelimuti pundak. Sementara kaum prianya mengenakan celana kanvas, bersepatu bot, dan bertopi lebar.

Sebagian dari pekerja museum itu adalah sukarelawan.

Ballarat masa lalu terbagi menjadi tiga kawasan, yaitu untuk bisnis, permukiman, dan pertambangan. Di kawasan bisnis, berderet bangunan yang dulunya melayani sektor barang dan jasa, seperti toko roti, konfeksi, bank, toko emas, kantor pos, hotel, restoran, dan toko timah.

Bangunan itu tidak kosong. Selain menampilkan diorama fungsi dari bangunan tadi, sebagian besar bangunan juga benar-benar difungsikan sesuai dengan peruntukannya.

Toko Hope Bakery, misalnya, benar-benar menjual kue pie yang resepnya konon merupakan warisan nenek moyang warga Ballarat. Pengunjung yang lapar bisa makan pie yang konon terenak di Ballarat.

Pengunjung juga bisa melihat cara memproduksi lilin di Hewett’s Soap and Candle Works. Hewett pada zamannya adalah pemilik industri lilin.

Pada masa itu lilin merupakan industri yang sangat penting di Ballarat. Di pabrik Hewett, lilin diproduksi secara massal untuk keperluan penerangan di pabrik, bengkel, toko, dan kedai minum. Lilin juga digunakan penambang untuk masuk ke terowongan galian emas.

Dari kawasan kota, penjelajahan selanjutnya adalah ke Red Hill Gully Creek dan Red Hill Minning. Dua tempat ini menggambarkan suasana pencarian emas di Ballarat. Di Red Gully Creek pengunjung tampak antusias mendulang emas. Pihak museum mengklaim sungai di situ mengandung emas betulan.

Pada awalnya, emas di Ballarat diperoleh dengan cara mendulang endapan aluvial di sungai. Setelah emas di permukaan tanah habis, pencari emas menggali terowongan untuk mengambil emas di perut bumi.

Terowongan itu adalah jalur yang dibuat penambang untuk mencari emas. Hanya ada cahaya lilin yang menerangi terowongan yang bercabang-cabang tadi.
(uky)
Okezone

Palau, Keajaiban Bawah Air Dunia


Detail Berita
(foto: citypictures.org)
DESTINASI wisata kali ini adalah Palau. Sebuah negara kepulauan yang berada di Samudra Pasifik, 500 km sebelah timur Filipina. Koror adalah ibukota negara ini, terdapat di Pulau Koror yang menjadi rumah sekitar 17.235 (90 persen) penduduk Palau.

Kota ini dihubungkan dengan beberapa jembatan dengan kota lainnya. Palau terdiri dari lima pulau, yaitu Babeldaob (Ochalchutem), Koror, Peliliu, Angaur, Kayangel dan sedikitnya 200 pulau kecil yang dikenal sebagai Pulau Batu. Dari sekian banyak pulau di negara ini hanya delapan pulau saja yang berpenghuni.

Koror sebagai ibukota memiliki pemandangan laut yang luar biasa indah. Sebuah lentera batu yang merupakan satu-satunya simbol agama Shinto Shrine di luar Jepang mengingatkan bahwa Jepang pernah hadir di pulau ini selama Perang Pasifik.

Terdapat Museum Nasional yang didirikan pada 1955 yang memperlihatkan karta karun Palau. Masyarakat Palau sangat bersahabat, hangat, ramah dan murah hati. Meskipun terlihat lebih Amerika dibanding orang Mikronesia lainnya, mereka terus memegang teguh kebudayaan matrilineal mereka yang sudah tua.

Sebagai kawasan tujuan wisata, tidak sulit menemukan hotel bertaraf internsional. Jika dana anda terbatas, terdapat motel dan guest house. Restoran juga menyajikan menu-menu internasional terbaik, sebaik mereka menyajikan menu makanan khas Palau.

Dari Koror, dengan menggunakan kapal, anda bisa berkeliling pulau-pulau yang ada di Palau. Banyak kegiatan yang bisa anda lakukan, kanoning berkeliling Pulau Batu yang memiliki air tenang tanpa ombak, snorkelling, berenang, scuba diving atau trekking ke batu karang. Bahkan anda juga bisa memancing di laut yang memiliki aneka jenis species ikan. Selama ini Palau dijadikan referensi kehidupan aneka terumbu karang. Palau juga kerap digunakan sebagai tolok ukur dunia untuk mempelajari terumbu karang.

Jangan lewatkan tur ke Desa Babeldaob, di mana anda bisa melihat beberapa tempat bersejarah dan kebudayaan masyarakat setempat. Tidak ada tempat menginap di desa ini, tapi jangan khawatir, anda bisa menginap di rumah salah satu keluarga di sini.

Tidak ada tarif yang diberlakukan bila anda bermalam di rumah penduduk setempat, cukup anda membawa hadiah seperti kopi, roti daging kalengan atau rokok untuk diberikan kepada keluarga yang rumahnya anda inapi. Sebaiknya anda ingat satu hal, jangan lupa melepas sepatu atau alas kaki sebelum memasuki rumah penduduk, ini adalah adat yang berlaku di sini.

Tiga arus lautan yang bertemu di Palau membawa serta kehidupan laut yang lebih beraneka dibanding laut Karibia sekalipun. Terdapat lebih dari 1.000 spesies ikan dan lebih dari 700 spesies karang. Jika anda menyelam bisa menyusuri tebing Ngemelis Wall setinggi 60 kaki, menurun kira-kira 1.000 kaki sampai anda menjumpai aneka terumbu karang dan aneka species ikan beraneka warna.

Palau dikenal sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Bawah Air Dunia. Jika anda hobi diving, jangan lupa mengunjungi Pulau Mecherchar. Di pulau ini terdapat Danau Ikan Selai yang merupakan danau berair payau.  Danau ini merupakan rumah dari  ribuan ubur-ubur yang telah bermutasi dari ubur-ubur laut yang menyengat ke ubur-ubur air payau tanpa sengat. Snorkelling bersama ribuan ubur-ubur ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan.

Menyelam di danau ini, anda akan dibawa ke banyak terowongan bawah laut lengkap dengan pemandangan stakaktit-nya yang indah. Untuk trekking, pemandu local akan mengajak anda ke lokasi air terjun dan ke puncak tertinggi Palau yaitu Gunung Ngerchelechuus (713 kaki). Di sini anda bisa menemukan 70 spesies anggrek serta kehidupan liar yang mempesona.

Transportasi di Palau bisa menggunakan taksi atau menyewa mobil. Jika taksi menjadi pilihan anda, jangan kaget kalau taksi di sini tidak menggunakan argo/ meteran taksi. Pengemudi akan memperlihatkan semacam kartu tujuan kepada anda sebelum memulai perjalanan. Jika perjalanan anda ingin lebih nyaman dan privasi, menyewa mobil bisa menjadi pilihan tepat.
(uky)
Okezone

Melepas Penat di Pantai Depok


Detail Berita
(foto: kangulumuddin.blogspot)
JIKA ingin menikmati keindahan kawasan pantai di Yogyakarta, ke mana tempat yang akan kita tuju? Pasti cobalah ke Pantai Depok. Di sana, kita akan tahu bahwa lokawisata pantai di Kota Gudeg yang mempesona.

Untuk ke sana, dari kota Yogyakarta, jalan yang harus ditempuh masih searah dengan yang ke Parangtritis. Masih sama-sama berada di wilayah Kabupaten Bantul. Hanya ketika sudah sampai di pintu gerbang kawasan wisatanya, jangan terus lurus masuk, tapi ambilah jalan kecil beraspal yang ke kanan. Sekira kurang lebih 1,5 kilometer menyusuri jalanan kampung, sampailah sudah di Pantai Depok.

Mulanya kita akan melihat banyak bangunan los yang memanjang. Itu adalah Tempat Pelelangan Ikan (TPI) atau pasar ikan bagi masyarakat nelayan di sana. Selain TPI, akan tampak pula tanah lapang yang masih sedikit ditumbuhi tetumbuhan bakau. Itu adalah tempat yang disediakan sebagai area parkir untuk kendaraan para pelancong.

Dari area parkir hingga melewati bangunan-bangunan los di TPI, laut atau pun pantainya memang belum terlihat, meski sebenarnya deburan ombaknya sudah mulai terdengar. Jika ingin segera menikmati kawasan pantainya, kita masih harus berjalan beberapa puluh meter lagi. Lalu amatilah langkah hingga terasa berat oleh tanah berpasir.

Jika kaki sudah merasakan butiran-butirannya, mata akan segera menangkap pemandangan yang sungguh menyegarkan hati. Hamparan pantai memanjang dengan latar belakang Laut Selatan yang sedemikian luas. Sementara ombak yang silih berganti menepi menghadirkan suara deburan yang indah di telinga.

Itulah pantai Depok. Lokasinya memang berdekatan dengan pantai Parangtritis, tapi Depok tetap saja bukan Parangtritis. Begitu pun eksotika alamnya. Bahkan sangat mungkin kita akan menemui keindahan lain yang tidak ada di Parangtritis. Paling tidak satu hal, betapa Depok masih terasa begitu alami kehidupannya.

Sebaiknya, ketika sudah melewati lokasi TPI Depok, jangan terburu-buru ingin segera sampai di pantai. Tapi luangkan waktu untuk berhenti. Lalu nikmatilah sejenak kehirukan pasar nelayan yang sedang berlangsung. Apalagi jika pas di akhir pekan, hari Minggu, yang aktivitasnya terasa lebih ramai dari hari-hari biasa.

Inilah sensasi pertamanya. Di pasar itu, kita akan bisa menikmati akhir dari perjuangan para nelayan setelah seharian atau semalaman mengarungi laut. Menantang keganasan ombak Laut Selatan mencari ikan demi untuk menghidupi keluarganya.

Lalu lihatlah pada sekelompok perempuan di situ. Sebagian ada yang memadati bangunan los pasar. Berderetan menjajakan aneka hasil tangkapan laut seperti ikan bawal, tengiri, udang, kepiting dan lainnya. Biota laut hasil tangkapan nelayan itu kemudian ditempatkan di atas bangku yang memanjang sepanjang los pasarnya.


Benar, pengunjung memang menjadi bagian yang melengkapi terjadinya sebuah pasar di TPI Depok. Di luar para tengkulak, kerap kali banyak di antara wisatawan yang tertarik. Lalu setelah memilih-milih ikan yang diinginkan, membelinya.

Sementara sebagian pedagang lain ada yang menjajakan dagangannya dengan cara oprokan. Biasanya pedagang ini menjual ikan dalam bentuk yang sudah matang. Khususnya dibuat penganan serupa rempeyek. Ada rempeyek udang, rempeyek jingking (ikan hitam kecil-kecil) dan juga ikan bawal atau tengiri yang sudah digoreng.

Kalau sudah puas menikmati kehidupan pasarnya, barulah Anda bisa melanjutkan perjalanan pelesir ke area pantai. Tak butuh waktu lama, karena hanya tinggal beberapa langkah dari ujung pasarnya. Dan begitu laut sudah terbuka, sensasi lain dari Pantai Depok akan segera menghampar tersaji di hadapan mata.

Memang, tidak ada delman seperti yang ada di Parangtritis. Tapi justru inilah menariknya. Sebab dengan berjalan kaki, rasanya justru bisa lebih detail menikmati setiap jengkal kawasan wisata pantai yang panjangnya tak lebih dari 2 kilometer tersebut. Sembari mendengarkan deburan ombak yang seperti tak henti memborbardir kawasan tepi pantainya.

Tapi sebelumnya, jangan lupakan pula hamparan pasirnya. Biasanya anak-anak suka dengan ini. Mereka kemudian membuatnya sebagai mainan untuk dijadikan bentuk-bentuk tertentu, serupa istana, atau apa pun sebagaimana yang ada dalam imajinasinya. Maka jangan heran, jika banyak anak yang betah berlama-lama ketika sudah bermain pasir.

Atau ada juga yang bermain layang-layang. Di pantai yang memiliki embusan angin yang sedemikian kuat tentu bermain layang-layang adalah hal yang mengasyikkan. Apalagi ada banyak pedagang yang menjajakannya. Menariknya, permainan layang-layang ini tidak hanya dilakukan oleh anak-anak tapi juga mereka yang sudah dewasa.

Di sudut yang lain, acap kali terlihat sekumpulan anak-anak muda yang bermain dengan ombak yang sedang menepi. Terkadang ada yang kemudian berani menantang gulungan yang sepertinya memang tidak seganas di Parangtritis. Lumayan memancing adrenalin memang.

Jika sudah demikian, biasanya Tim SAR yang setia memantau keamanan akan segera mengingatkan lewat mikropon agar pengunjung tak terlalu jauh masuk ke laut demi keamanan. Sementara bagi mereka para orang tua, cukuplah duduk memandang laut lepas. Atau kalau tidak ada yang berjalan menyusuri tepian pantai.

Kondisi pantai Depok yang masih banyak menyisakan kealamiahannya memang serasa tak pernah membuat bosan untuk dipandang.
(uky)
Okezone

Keindahan Karang Wakatobi


Detail Berita
DESTINASI kali ini akan mengusik jiwa petualang anda. Sebuah kawasan yang masih terbilang masih asli menawarkan perjalanan yang tak terlupakan.

Adalah Kepulauan Tukang Besi, sebuah gugusan kepulauan yang terdiri dari empat pulau besar dengan luas sekitar 821 km2. Empat pulau besar tersebut adalah Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko yang oleh masyarakat setempat biasa diakronimkan sebagai WAKATOBI.

Sebagaimana namanya, Tukang Besi, kepulauan ini memang terkenal dengan pembuatan keris tradisional yang indah dan tetap diproduksi hingga sekarang. Gugusan kepulauan ini memiliki alam yang masih asli, tenang dengan air laut yang segar, gua-gua bawah laut yang saling berdekatan satu sama lain yang disuguhkan khusus untuk pecinta alam sejati. Bisa dikatakan bahwa wilayah ini merupakan kawasan wisata taman laut pertama di Indonesia.

Meski menyelam bisa dilakukan setiap saat, tetapi bulan April dan Desember adalah bulan yang paling baik untuk melakukan penyelaman karena cuacanya sangat bagus. Di samping menyelam dan snorkling di pantai juga disediakan khusus motor selam, tour snorkling dan penjelajahan di kepulauan. Sebuah kawasan kecil yang berlokasi di samping pulau Tomia seluas 8 km2, bernama Pulau Tolandona (Pulau Onernobaa) memiliki keunikan karena pulau ini dikelilingi taman laut yang indah.

Setelah menempuh perjalanan 5-6 jam dengan kapal cepat dari Kendari, Bau-Bau menjadi tempat transit berikutnya ke Wakatobi. Perjalanan tidak dapat langsung karena jadwal penyeberangan Bau-Bau-Wanci, pintu gerbang Wakatobi terbatas. Lagi pula penyeberangan dengan kapal kayu sekitar satu hari akan sangat melelahkan. Jalur yang biasa dipakai dari Bau-Bau adalah perjalanan darat ke Lasalimu, kecamatan di sebelah tenggara Bau-Bau, sekitar 3 jam. Selanjutnya menyeberang ke Wakatobi. Itu pun jadwal penyeberangan sekali sehari, pukul 06.00.

Ada dua macam suku di Kepulauan Tukang Besi, yaitu Tukang Besi utara dan selatan. Total penduduk kedua suku tersebut kini mencapai kisaran 250.000 orang, tersebar di empat pulau besar Wakatobi. Mata pencarian suku Tukang Besi adalah bertani. Makanan pokok mereka adalah ubi-ubian, yang biasa dibakar dan dimakan bersama ikan. Suku Tukang Besi selatan juga termasuk rumpun suku Buton. Ketergantungan hidup mereka terletak pada hasil laut yang menjadi santapan sehari-hari.

Jika anda ingin berkunjung ke Wakatobi, pada bulan Juli-September ombak bisa setinggi gunung. Namun, bagi anda yang berjiwa petualang, ombak besar tidak menjadi halangan untuk mengunjungi gugusan kepulauan di antara Laut Banda dan Laut Flores ini. Tapi bila anda ingin lebih ‚aman’, bulan Oktober sampai awal Desember merupakan pilihan terbaik menikmati keindahan di Wakatobi. Begitulah beberapa pesan penduduk Wakatobi yang ditemui di Kota Bau-Bau.

Sebenarnya Wakatobi tidak hanya mengandalkan transportasi laut dari Bau-Bau atau Lasalimu. Sejak tahun 2001, transportasi udara bisa menjangkau wilayah kepulauan di timur Pulau Buton ini. Namun, ongkos perjalanan sangat mahal, selain itu transportasi udara hanya melayani jalur Denpasar-Wakatobi dengan jadwal tiap 11 hari.

Kepulauan Tukang Besi mempunyai 25 gugusan terumbu karang yang masih asli dengan spesies beraneka ragam bentuk. Terumbu karang menjadi habitat berbagai jenis ikan dan makhluk hidup laut lainnya seperti moluska, cacing laut, tumbuhan laut. Ikan hiu, lumba-lumba dan paus juga menjadi penghuni kawasan ini. Kesemuanya menciptakan taman laut yang indah dan masih alami. Taman laut yang dinilai terbaik di dunia ini sering dijadikan ajang diving dan snorkling bagi para penyelam dan wisatawan. Sejak tahun 1996, kawasan Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional.

Kawasan wisata juga terdapat di Pulau Wangi-Wangi, Hoga, pulau di sebelah Kaledupa dan Binongko. Selain snorkling dan diving, aktivitas pariwisata lain yang bisa dinikmati adalah pemandangan pantai, menyusuri gua, fotografi, berjemur, dan camping.

Empat pulau besar di Wakatobi memiliki karakteristik khusus, yakni setiap pulau merupakan satu wilayah kecamatan, kecuali Pulau Wangi-Wangi yang terdiri dari dua kecamatan. Wangi-Wangi, pulau pertama yang dijumpai saat memasuki Kabupaten Wakatobi, menjadi pintu gerbang dan paling dekat dengan Pulau Buton. Di sini terdapat pelabuhan besar yang melayani kapal barang dan penumpang di Desa Wanci. Jika Pulau Wangi-Wangi menjadi pintu gerbang transportasi laut, maka Pulau Tomia menjadi pintu gerbang transportasi udara.
(uky)
Okezone

Damai dalam Dekapan Alam di Luwu Timur


Detail Berita
Danau Matano (Foto: abumochas.wordpress)
DI balik hutan lebat dan sunyinya pegunungan yang menjulang, Luwu Timur memendam kekayaan dan kemegahan alam yang memukau. Anda akan merasa damai saat berada dalam "dekapan”-nya.

Anugerah alam yang kaya menjadi keunggulan utama Luwu Timur yang ditawarkan kepada setiap wisatawan. Di sini, hampir semua lokasi wisata masih sangat alami alias belum tersentuh fitur-fitur modern.

Namun demikian, pesona alam perawan Luwu Timur tetap akan memperkaya dan menyadarkan setiap pelancong akan kemegahan alam Indonesia yang seutuhnya.

Terdalam di Asia Tenggara

Selama ini, kalau bicara soal danau di Indonesia, tentu tak bisa jauh dari Danau Toba di Sumatera Utara. Maklum, kemegahan dan pesona alam Toba memang masih menjadi salah satu ikon di Nusantara.

Tapi, persepsi itu akan sedikit kabur ketika Anda menginjakkan kaki di Kota Sorowako. Setelah sedikit meluangkan waktu berputar-putar di kota mungil ini, Anda akan menemukan sebuah kolam raksasa yang tak kalah dengan Toba, yakni Danau Matano.

Danau Matano adalah salah satu danau istimewa. Tidak seperti danau lain di Indonesia, air yang menggenangi Danau Matano bukan berasal dari aliran sungai-sungai, melainkan dari ribuan mata air yang seolah tak pernah henti mencurahkan airnya. Dan segi luas, danau yang hanya sekitar 130 km2 ini memang tak bisa menyaingi Danau Toba. Tapi soal kedalaman, tercatat kedalaman danau ini mencapai 594 meter.

Hal inilah yang kemudian menobatkan danau berumur 4 juta tahun ini sebagai danau terdalam di Asia Tenggara. Sedangkan di dunia, Danau Matano menduduki peringkat kedelapan.

Tak hanva itu, dasar danaunya yang lebih rendah dari permukaan laut merupakan gejala alam yang langka di dunia. Kondisi ini hanya dijumpai di Laut Mati, Lembah Jordan, Mesir. Danau Matano juga merupakan sebuah sistem danau. Artinya, danau tidak sendiri tapi "ditemani" dua danau lainnya, yaitu Danau Towuti dan Mahalona.

Di tengah danau yang tenang ini juga terdapat sejumlah pulau yang bisa disinggahi. Di bagian tenggara atau daerah Otuno dan Soluro misalnya, terdapat Pulau Nuha Langkai dan Nuha Le. Sedangkan di barat laut danau, bisa dijumpai Pulau Kucing.

Pantai-pantai berair tawar

Ada beberapa lokasi atau pantai untuk menikmati keelokan alam sekitar Danau Matano. Salah satunya Pantai Ide yang berada tak jauh dari pusat kota Sorowako. Pantai ini adalah lokasi yang paling banyak dikunjungi oleh mereka yang ingin mereguk indahnya alam di kawasan Matano.

Layaknya pantai wisata lain, di sini terdapat fasilitas untuk kenyamanan setiap pengunjung, seperti taman dan dermaga sepanjang sekitar 100 meter yang menjorok ke tengah hingga panggung hiburan.

Ingin lebih dekat dengan air danau yang jernih? Anda bisa menyusuri dermaga kayu sepanjang 100 meter. Pada hari libur atau perayaan tertentu, Pantai Ide juga menjadi arena pertunjukkan musik atau berbagai lomba water sport lainnya, seperti Matano Lake Open Water Swimming Championship, lomba renang rakyat atau lomba dayung perahu tradisional.

Danau ini bisa dikunjungi setiap waktu dan tanpa dipungut biaya sepeserpun. Sore hari adalah waktu kunjungan yang tepat. Selain tidak terlalu panas, Anda juga dapat menemukan suasana senja yang dramatis.

Pilihan pantai lainnya adalah Pantai Salonsa. Pantai ini juga kerap disebut Pantai Kupu-kupu. Sebab bila datang musimnya, taman asri di tepian danau yang dilindungi pepohonan akan dihiasi ulat yang bermetamorfosis.

Suasana Pantai Salonsa sendiri terasa lebih "eksklusif” karena letaknya yang ada di dalam di kawasan perumahan pejabat teras Inco. Di sinilah biasanya para ekspatriat dan keluarganya menghabiskan waktu luang dengan berenang atau bersantai di taman yang tenang dan sejuk, tanpa harus terganggu oleh pengunjung lainnya.

Sementara, meski kondisinya tidak indah pantai lain, Pantai Old Camp yang berada di dekat kompleks perumahan tertua pekerja tambang ini bisa jadi alternatif. Bagi para pekerja tambang senior, pantai ini menyimpan kenangan manis selama bertugas di wilayah ini.

Danau Matano mata air abadi

Menikmati pesona Danau Matano tak lengkap kalau hanya dari tepi. Jauh di seberang, ada sebuah tempat menarik yang akan membawa Anda memahami lebih dalam tentang danau ini.

Dengan menggunakan katinting alias perahu kayu tradisional atau speedboat sewaan, Anda bisa menuju sebuah desa mungil. Tak lebih dari 1 jam, Anda bakal tiba di desa istimewa yang namanya juga disematkan untuk danau ini, yaitu Desa Matano.

Di sinilah terdapat mata air yang dipercaya sebagai sumber air melimpah bagi Danau Matano dan danau lainnya. Airnya sangat jernih dan dijaga kemurniannya sampai sekarang. Oleh penduduk setempat, mata air ini telah dibentuk seperti sebuah kolam masih dianogap sumber air yang sangat penting.

Ada sebuah tradisi unik yang dilakukan orang saat berada di mata air ini. Banyak orang yang mengunjungi kolam ini mengucapkan "Bure...Bure...Bure...". Hal itu dipercaya akan membuat jumlah gelembung air yang tercipta di mata air abadi ini semakin banyak sehingga akan menambah volume air danau.

Kebun Raya Sorowako

Berlokasi di kawasan pembibitan yang dikelola oleh PT Inco, Kebun Raya Sorowako (KRS) menjadi tujuan berikutnya. Tempat ini menyimpan beragam flora khas Luwu Timur dan sekitarnya. Tempat ini juga merupakan pusat pembibitan aneka jenis tanaman khas Luwu yang nantinya akan ditanam kembali di lokasi penambangan agar kawasan yang tadinya rusak akan kembali pulih seperti layaknya sebelum ditambang.

KRS memiliki desain dan dilengkapi fasilitas pendukung modern. Tempat ini mengoleksi tak kurang dari 48 jenis flora. Semuanya adalah tanaman lokal seperti Kayu hitam atau Eboni dan Maladewa.

Salah satu koleksi yang paling unik adalah anggrek langka yang lidah dan kelopaknya bewarna kuning terang. Areal ini masih akan terus dilengkapi dengun fasilitas lain seperti koleksi tanaman lokal, galeri, taman rekreasi, dan taman kupu-kupu. Tempat ini sengaja disempurnakan sebagai lokasi liburan yang menarik, sekaligus bernilai edukatif.

Terbesar di Bumi Luwu

Dari Sorowako, arahkan perjalanan Anda menuju Wawondula yang berjarak sekitar 20 km. Pada sebuah pertigaan, belok ke kiri sampai sebuah pasar tradisional. Dari sana, Anda bisa menyusuri jalan aspal hingga bibir Danau Towuti.

Danau Towuti menawarkan bentangan alam natural yang patut disusuri keindahannya. Gugusan pegunungan hijau di seberang sana menjadi pelindung setia danau yang telah berumur satu juta tahun ini. Dermaga dan perahu nelayan yang mengapung di permukaan airnya yang tenang ikut menambah anggunnya danau ini.

Bagi masyarakat sekelilingnya, Danau Towuti memiliki arti tersendiri. Selain menjadi sumber kehidupan warga yang kebanyakan hidup sebagai petani dan nelayan, danau ini juga berfungsi sebagai "jalan" bagi warga yang tinggal di seberang danau serta "rumah" yang nyaman bagi beragam ikan dan satwa lainnya. Air Danau Towuti yang kemudian mengaliri Sungai Larona ini merupakan sumber energi utama untuk menjalankan dua sarana PLTA yang ada di Luwu Timur.

Bila penasaran ingin menjelajahi danau ini, Anda dapat menyewa perahu yang tersedia dan singgah di sebuah pulau yang ada di tengah danau ini. Tapi perlu diingat, sang pemilik perahu kebanyakan hanya bersedia melayani trip sebelum jam 15.00 karena adanya mitos yang masih berlaku di kawasan ini.

Air terjun bertingkat air terjun bertingkat

Sungai Tumbura yang mengaliri celah-celah sempit di lereng Gunung Lembeonga rupanya menyimpan daya tarik tersendiri. Berada sekitar 30 km dari Sorowako dan tersembunyi di antara lebatnya pepohonan yang menyelimuti kawasan ini, terdapat sebuah air terjun menawan bernama Meruruno.

Juga dikenal Air terjun Matabuntu Wasuponda, air terjun ini memiliki bentuk yang unik. Air terjun ini bertingkat-tingkat, mirip seperti air terjun Moramo di Kendari. Meski jumlah tingkatan sebenarnya mencapai puluhan, hanya ada sekitar 6 undakan yang paling tinggi.

Air terjun ini akan semakin indah bila debit air sungai ini tidak dalam keadaan kering. Lokasi ini pun menjadi salah satu lokasi favorit para karyawan tambang untuk menghabiskan waktu liburan dan ramai dikunjungi pada saat weekend.
Untuk mencapai air terjun ini memang belum bisa dikatakan mudah dan menggunakan jasa pemandu, nampaknya harus dipertimbangkan. Dari Sorowako, Anda harus mencapai Wasuponda, kemudian mengikuti jalan desa berbatu, menyusuri perkebunan dan persawahan.

Selain kondisi jalan yang masih bergelombang di sejumlah tempat, sign untuk menuju air terjun ini juga belum tersedia. Dari perhentian kendaraan terakhir, Anda bisa mengikuti jalan setapak menembus hutan dan agak mendaki.

Menurut pengelola, jalan dan tangga untuk menuju air terjun ini akan ditingkatkan agar pengunjung bisa lebih merasa nyaman untuk menjangkaunya. Namun demikian, semua itu akan terbayar saat mata menyaksikan air terjun unik ini.

Pantai Batu Menggoro pesona di ujung teluk

Sebelumnya, Anda mungkin sudah menemukan pantai berair tawar. Namun, bila Anda ingin menikmati suasana pantai yang sesungguhnya alias pantai berair asin, maka Luwu Timur juga punya yang namanya Pantai Batu Menggoro, tepatnya di Lampia, 12 km di sebelah barat Malili.

Dari Sorowako Anda harus menuju Kota Malili. Kemudian, arahkan perjalanan menuju perbatasan Sulawesi Tenggara melintasi jembatan yang melintang di atas Sungai Larona. Setelah beberapa saat lamanya, jalan akan mendatar dengan pantai di sebelah kanan jalan.

Pantai yang menghadap Teluk Bone ini akan banyak dijumpai batu karang berukuran besar yang mengeluarkan suara seperti orang mendengkur saat diterpa ombak. Suasana pantai Batu Menggoro memang belumlah "sah" untuk dikatakan sebagai pantai wisata karena suasananya yang masih serba natural.

Tak ada tanda-tanda penunjuk nama pantai, biaya retribusi, apalagi resto, hotel, atau resort seperti pantai wisata lainnya. Akan tetapi, pantai ini telah menjadi tempat "pelarian" favorit karyawan penrsahaan tambang saat ingin berlibur di pantai yang sesungguhnya.

Di samping suasana pantai yang sunyi plus deburan ombak yang menghanyutkan jiwa, kawasan ini juga menyuguhkan lansekap yang tak kalah menawan. Namun untuk mendapatkannya, Anda harus melanjutkan perjalanan ke garis perbatasan Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara.

Selama menyusuri jalan aspal berliku dan mendaki tebing pantai yang terjal, lautan berlatar daratan dan gugusan pegunungan hijau akan menyergap mata. Inilah "bonus" menarik yang bakal didapat dari rangkaian perjalanan yang sedikit melelahkan itu. (ftr)
(uky)
Okezone

Kota Berjuluk Switzerland Van Java


Detail Berita
(foto: commons.wikimedia)
KOTA Garut berhias gunung-gunung yang menjulang, termasuk Gunung Gede (atau Gunung Papandayan), Gunung Guntur, dan Gunung Cikuray.

Di saat fajar, pemandangan gunung terkesan misterius dengan lingkup kabut yang menebal dan terlihat dari kejauhan. Kala senja di saat matahari berwarna merah dan mulai menghilang di ufuk barat, kesan itu pun muncul kembali.

Bukan hal aneh jika Garut yang begitu indah kemudian dijadikan kota wisata oleh seorang Belanda bernama Holke van Garut (seorang gubernur kesayangan pemerintah Belanda pada tahun 1930-1940) dan melihat kabupaten ini berpotensi sehingga dijuluki sebagai ”Switzerland van Java” dan kemudian mendirikan hotel di sana. Di wilayah ini juga pernah didirikan dua hotel yang antara lain bernama Hotel Belvedere dan Hotel Van Hengel.

Ada juga hotel lain yang berada di luar kota Garut termasuk Hotel Ngamplang di Cilawu, Hotel Cisurupan, Hotel Malayu di Tarogong, Hotel Bagendit di Banyuresmi, Hotel Kamojang di Semarang dan Hotel Cilaut Eureun di Pamengpeuk. Semua hotel itu (termasuk hotel milik Holke van Garut), sayangnya telah hilang, rata dengan tanah atau berubah fungsi dan wujudnya.

Nama Garut sendiri mulanya cukup unik. Di awal tahun 1813, Bupati Limbangan, Adipati Adiwijaya, memerintahkan untuk mencari tempat yang cocok sebagai ibu kota kabupaten. Akhirnya, ditemukanlah sebuah tempat yang cocok, berupa tanah datar, subur, lengkap dengan mata air yang terus mengalir ke Sungai Cimanuk. Berkah alam ini ditambah pula dengan pemandangan yang indah dari gunung-gunung di sekitarnya, yaitu Cikuray, Papandayan, Guntur, Talaga Bodas dan Karacak. Konon, pada masa pemerintahan bupati itulah tempat ini mulai diberi sebutan ”Garut”.

Sejak awal abad ke-19, Garut memang heterogen dengan masyarakat yang berusaha di perkebunan, bahkan sebagai tempat wisata sejak masa kolonial Belanda. Usaha perkebunan yang terletak di sekitar Giriawas, Cisaruni, Cikajang, Papandayan, dan Darajat ketika itu telah dikelola oleh swasta Belanda. Baru pada tahun 1900-1928 diikuti dengan perkebunan karet, teh, kini di daerah Cilawu, Cisurupan, Pakenjeng, Cikajang, Cisompet, Cikelet dan Pameungpeuk.

Dulu, di Garut, ada juga situs candi bernama Candi Cangkuang (konon didirikan pada abad ke-7, pada masa peradaban Hindu-Jawa) yang sebenarnya sudah cukup tua – bahkan konon lebih tua dari candi Prambanan – yang kemudian sayangnya sempat dihancurkan saat sejarah pergolakan ideologi di tahun 1950-an. Sayang sekali, pandangan dan ideologi yang sempit telah menghancurkan tatanan dan peradaban budaya yang begitu dikenal di masa lampau.

Tempat untuk wisata lainnya yang juga menarik dari Garut adalah Kawah Papandayan, Kawah Kamojang, Kawah Manuk, Kawah Talaga Bodas, Situ Cangkuang, pemandian air panas, Cipanas Bagendit, Gunung Cikuray, Gunung Guntur dan Pantai Pameungpeuk.

Salah satu tempat yang layak dikunjungi adalah sebuah kampung wisata bernama Kampung Sumber Alam, selain terdiri dari bungalow juga memiliki fasilitas lain seperti ruang rapat, restoran, kolam renang dan Spa. Kampung Sumber Alam, memiliki fasilitas 40 buah kamar dengan ruang pertemuan Inten Dewata dan Gambir Wangi, Restoran Tanjung Balebat, Kolam Renang air panas alam Tasikmadu, Warung Kopi dan Kamar Rendam Sipatahunan.

Konon, bila air panas semata memang harus dibatasi hingga 15 menit, maka air alam dari Cipanas ini tetap bisa berlama-lama. Karena kualitas air dari Cipanas mengandung sulfur, memang sangat baik untuk para pendatang.

Bangunan Kampung Sumber Alam memang menjadikan batang pohon kelapa sebagai tiang utama di setiap bangunan dengan unsur ijuk dan rumbia diharapkan dapat mengusir dingin buat penghuninya.

Berbagai wilayah dalam areal Kampung Sumber Alam ini pun menggunakan prinsip itu, antara lain: wilayah Tegal Pangulinan (tempat main anak-anak termasuk juga permainan tradisi ”anak kampung” antara lain bermain Gatrik, Nangkap Belut, Main Dampu dan permainan tradisi lainnya), Tepas Panampian, di mana ada lesung dan kentongan, pengairan dan jembatan bambu, juga Seke Jajar dan Balong Gede.

Di luar bungalow ini, yang akan didapat dari kekhasan makanan yang dihasilkan oleh penduduk Garut di masa sekarang adalah Dodol atau pun Jeruk Garut.  Sedangkan kerajinan tangan penduduknya termasuk Batik Garutan, Sutera Alam, AkarWangi, juga kerajinan kulit dengan bermacam pengolahan dengan harga yang memang tak seberapa mahal.
(uky)
Okezone

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCpenney Printable Coupons